"UAAAKKHH!"
Jet terbangun di sebuah hutan yang sangat gelap, saking gelapnya pepohonan di hutan tersebut tidak terlihat sama sekali.
"Ukh, apa barusan hanya mimpi?" Pikir Jet berusaha berdiri, lalu Jet memperhatikan pemandangan di sekitarnya yang dipenuhi kegelapan. "Dimana ini, apa ini alam baka?"
Saat tengah berpikir tiba-tiba saja Jet melihat cahaya redup di kejauhan, cahaya redup itu terus mendekat dan tidak lama kemudian Jet melihat sebuah perahu kecil, dan cahaya redup tersebut ternyata berasal dari sebuah lentera yang terpasang di depan perahu kecil tersebut, dan di atas perahu tersebut Jet melihat sesosok pria tua berjubah hitam yang sedang mendayung perahunya dengan pelan.
Beberapa menit kemudian perahu kecil tersebut menepi tepat di hadapan Jet.
"Hey kakek bertudung, sebenarnya tempat apa ini, tempat ini bukan alam kubur, kan?"
"Fu.. fu.. fu.." Pria tua itu hanya terkekeh mendengar pertanyaan Jet.
"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?" ucap Jet sambil menaiki perahu di depannya, lalu Jet menatap pria tua itu dengan tajam dan berkata, "Sebenarnya aku sangat ingin membunuhmu, Kakek, bersyukurlah nafsu membunuhku hilang karena penasaran dengan tempat yang di penuhi kegelapan ini."
"Fu.. fu.. fu.." sambil tertawa kecil pria tua itu kembali mendayung perahunya menjauhi daratan.
Dalam hitungan menit perahu kecil yang ditumpangi Jet dan pria tua itu sudah berada di tengah danau.
"Sunyi sekali disini, aku tidak merasakan satupun tanda kehidupan di tempat ini," benak Jet lalu memejamkan matanya karena merasakan semilir angin yang sangat sejuk melewati wajahnya.
Setelah tiga menit memejamkan matanya Jet bergegas membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat ratusan kunang--kunang yang bergerombol di kejauhan, lalu ratusan kunang-kunang itu mendekat dan melewati mereka berdua, Jet pun menoleh kebelakang melihat ratusan kunang-kunang itu yang terus menjauh.
"Hey kakek, sebenarnya tempat apa ini?"
"Fu.. fu.. fu.." pria tua itu kembali tertawa kecil dan hal itu cukup membuat Jet jengkel.
"Apa yang kau tertawakan, CUKUP! KUBUNUH KAU PAK TUA!" ucap Jet geram, lalu ia berusaha merebut dayung dari pria tua itu, lalu setelah berhasil merebut dayung dari pria tua itu Jet lekas menendang perut pria tua itu hingga membuat pria tua itu terhempas jauh dari perahu dan tercebur ke danau yang tidak kelihatan dasarnya.
"Be-beraninya kau!" teriak pria tua itu sambil berenang mengejar perahu miliknya.
"Fuh, kau bisa bicara rupanya.." ucap Jet bersiap memukul pria tua bertudung itu dengan dayung yang dipegangya.
JDUK! BUGH! KRAK!
Jet memukul kepala pria tua itu berkali-kali hingga darah segar bercucuran dari kepala pria tua itu, dan tidak lama kemudian pria tua itu pun tewas tenggelam.
"Fu.. fu.. fu.. Hya.. ha.. ha.. ha..!" Jet tertawa terbahak-bahak sambil menutup mata kanannya dengan tangannya. "Mati kau pak tua! Fu.. fu.. fu.. Bagaimana ini, rasanya tangan ini sangat gatal ingin membunuh orang lagi!" pikir Jet tersenyum lepas.
Setelah tiga puluh menit terdiam sambil menyeringai, Jet bergegas mengambil dayung yang tergeletak di depannya dan kembali mendayung perahu yang baru saja ia rampas dari pria tua yang dibunuhnya.
"Fuh, butuh waktu lama juga untuk menstabilkan nafsu membunuhku, disini tidak ada orang jadi bisa gawat bila aku tidak bisa menenangkan diriku," pikir Jet bernafas lega. "Sebenarnya bisa saja aku pergi dari sini dengan menggunakan jurus teleportasiku, tapi tempat ini sangat membuatku penasaran,"
Tidak lama kemudian Jet merasakan perahu yang ditaikinya menyentuh daratan, Jet pun bergegas turun dari perahu dan berjalan di tanah berlumut sambil memancarkan cahaya kuning di seluruh tubuhnya.
Dengan penerangan cahaya dari tubuhnya Jet menjelajahi hutan yang sunyi dan juga gelap, lalu setelah lama menyusuri hutan yang gelap itu Jet bertemu lagi dengan pria berjubah hitam yang harusnya sudah mati dibunuh olehnya di danau tadi.
"Tiga keping emas!" ucap pria tua itu melotot dengan bola matanya yang memerah.
"Kau, kenapa kau masih hidup?"
"Kau harus membayar tiga keping emas untuk tumpangan tadi, anak muda!"
"Lagi-lagi mengacuhkan pertanyaanku, apa kau ingin kubunuh lagi, kakek bertudung?" ucap Jet mendekati pria tua itu lalu dengan secepat kilat Jet mencekik leher pria tua berjubah hitam itu tanpa rasa ampun.
"Urrrkh!" Pria tua itu mengerang kesakitan lalu mencengkram lengan Jet dengan kukunya yang sangat tajam, namun kuku pria tua itu yang bahkan melebihi ketajaman silet pun tidak mampu menggores lengan Jet yang dilapisi tabir cahaya.
"Bagaimana rasanya tidak bisa bernafas, sangat nikmat kan, kek?"
"GRAAA!" tiba-tiba kepala pria tua itu meloncat dan terlepas dari lehernya, lalu pria tua itu menunjukkan giginya yang sangat tajam dan membuka mulutnya lebar-lebar seperti hendak menerkam mangsa-nya.
"Cih..." Jet menghindari kepala pria tua itu hanya dengan memiringkan kepalanya.
"Menjijikan..."
Lalu dengan sigap Jet berbalik dan menangkap kepala pria tua itu sebelum terjatuh ke tanah.
"Menjijikan, aku sangat membenci orang keras kepala seperti dirimu kakek!" Ucap Jet mencengkram punggung kepala pria tua itu dengan sangat kuat.
"Fu.. fu.. fu..!"
"Apa yang kau tertawakan!" ucap Jet geram.
JRAASSH!
Kepala pria tua itu remuk bersimbah darah karena tekanan tangan Jet yang setara dengan kekuatan satu juta orang dewasa.
"Fuh..." Jet menarik nafas lega lalu melempar kepala pria tua itu ke atas dan kembali berjalan di hutan yang sangat gelap dan juga sunyi. "Menyebalkan, awas saja kalau kau berani muncul dihadapanku lagi, akan kumusnahkan kau dengan jurus pamungkasku, pak tua!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar