"Ukh~" Jet baru saja siuman setelah tidak sadarkan diri selama satu minggu, saat Jet membuka matanya ia mendapati dirinya sedang terbaring di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari kayu yang memancarkan cahaya redup.
Di samping tempat tidur Jet melihat sesosok wanita berkulit sawo matang yang sedang duduk sambil mengaduk-aduk semangkuk sup jamur, sementara itu di belakang wanita berkulit sawo matang itu terlihat seorang pria raksaksa setinggi tiga meter dengan dua tanduk di dahinya, dengan mata merahnya pria bertanduk itu menatap Jet yang baru saja siuman dengan tatapan tajam.
"Aura sepertinya manusia itu sudah sadar."
"Oh akhirnya kau sadar juga putra Adam," ucap Aura lembut.
"...Siapa?"
"Maaf kalau tidak sopan, padahal baru saja sadar tapi aku ingin menanyakan satu hal padamu,"
"...." Jet hanya terdiam sambil memandang wajah Aura.
"Wahai putra Adam kenapa kau bisa datang ke tempat ini? Padahal tempat ini terisolasi dari dunia luar dan sangat tidak mungkin seorang manusia bisa datang ke tempat ini?"
"Hmm... Aku tidak tahu, hal terakhir yang kuingat aku tewas dilahap oleh bayangan tangan raksaksa."
Setelah mendengar itu tiba-tiba saja wanita berkulit sawo matang itu terbelalak lalu ia segera menoleh kebelakang, wanita berkulit sawo matang dan pria raksaksa di belakangnya saling menatap cukup lama lalu wanita itu kembali melihat Jet yang terbaring di kasur.
"Apa...?" tanya Jet bingung.
"Sepertinya kau adalah orang terpilih yang tertulis di dalam kitab Iblis, tapi aku sangat tidak menyangka orang terpilih itu adalah salah satu dari Putra Adam, aku tak habis pikir kenapa orang terpilih itu adalah makhluk rendah yang telah berbuat kerusakan di dunia ini,"
"Rendah katam... ugh?!" belum menyelesaikan kata-katanya mulut Jet tiba-tiba saja disumpal sesendok sup jamur.
"Makanlah!" ucap Aura tersenyum, "kau baru saja siuman kan..."
Jet menatap Aura dengan wajah terkejut, lalu pada waktu yang sama ia melirik pria raksaksa yang berdiri di belakang Aura, pria raksaksa setinggi tiga meter itu terlihat sedang memperhatikan Jet dengan tatapan tajamnya.
"Siapa pria besar ini?" pikir Jet sambil mengunyah makanannya. "Tingginya... Entah kenapa dari dirinya aku merasakan tekanan yang sama seperti saat aku berhadapan dengan Kagami yang diselimuti energi kegelapan."
"Nih Aaaaahh..." Aura kembali menyodorkan sesendok sup jamur ke mulut Jet, namun kali ini Jet menepisnya dan membuat sendok kayu yang disodorkan wanita itu terjatuh.
"Jangan memperlakukan seperti anak kecil jalang!" ucap Jet kesal, "cih kau mengingatkanku pada ibuku yang telah kubunuh saja,"
"KAU BILANG APA BARUSAN!" bentak Nero mengeluarkan aura membunuh yang sangat besar.
*Deg!*
Tiba-tiba saja seluruh tubuh Jet menggigil, ia merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Eh, ke-kenapa tubuhku tiba-tiba menggigil?" pikir Jet bingung, "perasaan aneh apa ini, entah kenapa rasanya bergerak sedikit saja nyawaku akan melayang."
"Tenangkan dirimu Nero," ucap Aura sambil menyentuh celana pria setinggi tiga meter tepat di bagian kemaluannya, Nero pun terkejut dan aura membunuhnya mulai memudar. "Pria tampan dengan rambut pirang ini adalah orang terpilih yang tercatat di dalam ramalan kitab iblis, bila kau membunuhnya sekarang maka aliran sejarah akan berubah dan mungkin Dewa kita tidak akan bangkit."
"Fuh... Baiklah..." Nero menghela nafas.
Sementara itu Jet masih terlihat gemetar ketakutan, sisa-sisa aura membunuh Nero masih melekat di tubuh Jet dan hal itu cukup membuat seluruh tubuh Jet menggigil ketakutan.
"Se-sebenarnya mereka itu siapa?" pikir Jet menggigil ketakutan, "sial perasaan konyol macam apa ini, a-a-apakah i-ini yang namanya ke-takutan!"
Setelah Nero mulai tenang Aura lekas melepaskan tangannya dari selangkangan Nero yang tegang dan segera mengambil sendok kayu yang ia jatuhkan.
"Hmm... Sepertinya sendok ini harus kucuci," ucap Aura bergegas pergi dari ruangan itu.
Dengan perginya Aura suasana menjadi hening hingga lima menit lamanya, lalu tidak lama kemudian Jet mulai membuka pembicaraan.
"Sebenarnya kalian itu siapa?"
"Kami adalah penjaga pohon jiwa yang ada di tengah pulau ini."
"Pohon Jiwa?'
"Pohon yang di dalamnya dipenuhi jiwa-jiwa orang mati, pohon yang sangat sakral bagi kami dan sebelumnya kau pingsan di samping pohon sakral itu," jelas Nero, "kau sangat beruntung putra Adam, jiwamu tidak dimakan oleh pohon jiwa itu."
"Dimakan? Oh jadi sebelumnya cahaya di dalam tubuhku telah dimakan habis oleh pohon jiwa itu ya?" pikir Jet. "Hmm... Menarik, jadi sekarang aku tidak bisa bergantung pada kekuatan itu lagi ya, biarlah tanpa kekuatan itu pun aku masih bisa membunuh orang,"
"Membunuh ya..."
"Eh?! Apa barusan dia membaca pikiranku?" pikir Jet terkejut.
"Sebagai bangsa Demon aku bisa mendengar suara-suara yang tidak bisa di dengar oleh manusia,"
"Jangan membaca pikiranku atau...!" belum sempat menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja Jet merasakan tekanan yang membuatnya berhenti berbicara.
"Atau apa?" tanya Nero dengan tatapan tajam.
*KRIIEET!*
Beruntung, saat suasana menegang Aura kembali dengan semangkuk sup jamur dan sendok kayu yang baru saja ia cuci.
"Maaf menunggu lama, sekarang Aaaah!" ucap Aura sambil menyodorkan sesendok sup kepada Jet.
"Sudah kubilang jangan memperlakukanku seperti anak kecil jal..." Jet menghentikan kalimatnya setelah melihat Nero yang menatapnya seperti anjing yang ingin menerkam mangsanya, lalu dengan tangan gemetaran Jet lekas merebut mangkuk sup dari tangan Aura, "a-aku bisa makan sendiri!"
"Eh kau kan baru saja siuman!"
"Sudahlah aku tidak apa-apa!" Jet memakan sup jamur dengan lahapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar